Foto : Anisa
IPPNU Ajak Pelajar Lampung Hadapi Tantangan Era AI dengan Integritas dan Personal Branding Bijak
BANDAR LAMPUNG — Pimpinan Pusat Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (PP IPPNU) menggelar Sarasehan bertajuk Belajar, Berjuang, Bertaqwa bersama Pelajar Lampung yang terdiri dari pengurus OSIS, Rohis, dan IPPNU di Balai Keratun Pemerintah Provinsi Lampung, Sabtu (13/6/2026).
Dalam gelaran tersebut, pelajar diajak mempersiapkan diri menghadapi gempuran era disrupsi teknologi dan Artificial Intelligence (AI), sebab para pemimpin masa depan ini ditantang untuk tidak sekadar memanfaatkan kemudahan digital, melainkan mampu menjaga integritas moral dan membangun personal branding yang bijak di media sosial.
Ketua Umum PP IPPNU, Whasfi Velasufah, menekankan bahwa teknologi seperti Chat GPT memang mempermudah tugas-tugas akademis pelajar saat ini. Namun, kemudahan tersebut membawa tantangan baru, mulai dari ancaman kejahatan siber hingga taruhan masa depan. Untuk mempersiapkan bekal masa depan, ia mengingatkan pentingnya membangun relasi nyata sejak dini.
"Jangan sepelekan langkah yang kecil ini, ya. Mulai dari kita, nah ini jangan lupa save-save-an kontak, ya. Karena ke depan, selain dari skill, itu ada namanya relasi, ya. Relasi bahwa kita bisa bersama-sama, kenal satu sama lain, mungkin nanti diterima di kampus yang sama, atau bahkan nantinya bisa ketemu di level yang lain," ujar Vela dalam sambutannya.
Senada dengan hal itu, Kepala Subdirektorat PAI Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama RI, Lelis Tsuroya menegaskan bahwa di era AI di mana makalah bisa selesai dalam hitungan detik, nilai seorang pelajar tidak lagi diukur hanya dari angka di atas kertas, melainkan dari integritasnya dalam memanfaatkan teknologi.
"Jadi, pelajar yang bertakwa tahu bahwa menyontek menggunakan AI lalu mengakuinya sebagai karya pribadi itu adalah pengkhianatan terhadap ilmu," tegas Lelis.
Ia mengibaratkan capaian akademik yang tinggi tanpa fondasi akhlak laksana mobil yang melaju kencang namun remnya blong. Selain itu, aspek keagamaan seperti keimanan dan ketakwaan disebutnya sebagai shock absorber bagi kesehatan mental Gen Z dan Gen Alpha. Lelis juga menantang penalaran kritis pelajar agar tidak mudah terjebak dalam fenomena FOMO (Fear of Missing Out) ataupun ujaran kebencian saat berselancar di media sosial.
Selain itu menjaga integritas dan penalaran kritis, Tokoh Inspiratif Muda Lampung, Anistia Rizki mengajak pelajar untuk senantiasa menjaga rekam jejak. Ia mengingatkan para pelajar bahwa status atau story yang mereka unggah setiap hari di WhatsApp, Instagram, maupun TikTok secara tidak sadar membentuk perspektif orang lain (personal branding).
Ia mewanti-wanti agar ambisi masa depan para pelajar tidak hancur hanya karena kecerobohan di masa lalu, mengingat saat ini rekam jejak digital para pejabat publik pun kerap dikulik oleh masyarakat.
"Artinya teman-teman yang hari ini gue ingin sampaikan, caranya kita memang harus hati-hati sekali dalam bersemangat di media sosial. Baik di WA, baik di Instagram, TikTok, dan lain-lain. Karena sesederhana kita bikin story, ternyata itu semua berpengaruh,” katanya.
“Jangan sampai proses kalian menggapai itu terganjal oleh posting yang kalian di masa lalu," pungkas Anis.